Internet untuk Anak, Yay or Nay?

/, Kidos, Teknologi Informasi/Internet untuk Anak, Yay or Nay?

Internet untuk Anak, Yay or Nay?

Berkat internet, kita kini berada pada sebuah zaman di mana segalanya begitu terbuka dan tersebar dengan cepat. Jika zaman dahulu Pheidippides harus berlari dari Marathon menuju Athena untuk menyampaikan berita kemenangan Yunani pada perang Marathon, saat ini hanya dalam waktu satu kedipan mata saja berita tentang Bruno Mars yang menyabet Grammy terbanyak telah tersebar ke seluruh dunia.

Kemudahan ini ditunjang pula dengan teknologi smartphone dan data selular yang semakin canggih namun semakin murah. Penggunaan internet pun menjadi semakin masif. Indonesia tidak ketinggalan. Dari 262juta penduduk Indonesia di tahun 2017, 132juta di antaranya, atau lebih dari 50%,  adalah pengguna internet. Angka ini diprediksi masih akan bertambah lagi. Dari data statistik statista.com, Indonesia menempati urutan ke-5 negara dengan jumlah penduduk terbanyak yang mengakses internet.

Kamu pun pasti bisa melihat sendiri masifnya penggunaan internet dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tukang becak sekalipun punya akun facebook dan terbiasa chatting menggunakan salah satu atau lebih aplikasi messenger baik WhatsApp, FB Messenger, LINE, Telegram, dan lain-lain.

Apakah Internet Berbahaya?

Banyak pihak yang merasa khawatir dengan perkembangan ini. Ada pula anggapan bahwa pertumbuhan tersebut terlalu cepat dan masyarakat pada umumnya belum siap. Pasalnya, tidak dapat dipungkiri, selain membawa hal-hal baik, internet juga datang dengan membawa hal-hal negatif. Akan terlalu panjang kalau kita mau mendaftarkan video-video tak pantas yang beredar melalui internet. Akan mudah saja kita memberikan contoh konten-konten hoax yang beredar baik melalui media sosial atau aplikasi messenger. Akan lelah kita menuliskan kasus-kasus kejahatan yang terjadi dengan didahului pertemanan acak di media sosial. Daftar kasus serta modusnya pun bertambah panjang setiap hari.

Khawatir dengan hal tersebut, sejumlah sekolah menerapkan kebijakan yang melarang siswa-siswinya membawa ponsel. Alasannya sudah dimaklumi pula oleh orang tua, yakni agar proses belajar mengajar tidak terganggu dan anak-anak bisa konsentrasi pada pelajarannya. Akan tetapi, apakah hal ini efektif?

Seorang bijak pernah berkata, semua hal adalah netral. Kitalah yang kemudian menjadikannya positif atau negatif. Demikian pula internet, media sosial, messenger, dan smartphone. Semua itu hanyalah media yang netral. Orang-orang kemudian mengisi media tersebut dengan berbagai macam konten. Beberapa di antaranya negatif dan bahkan berbahaya, akan tetapi, tidak sedikit pula yang bermanfaat bagi banyak orang.

Jadi, Apa yang Harus Dilakukan?

Paradigma selalu penting ketika berhadapan dengan suatu hal. Demikian pula terhadap internet.

Jika seseorang menganggap internet sebagai alat bantu untuk memperlancar pekerjaan sehari-hari, mempermudah urusan, mempererat silaturrahim, memudahkan pembelajaran, maka anggapan itu benar adanya. Melalui e-mail dan video conference, kamu dapat berkoordinasi dengan rekan kerja di mana pun. Dengan media sosial, kamu dapat tetap menjalin tali silaturrahim, bertukar kabar dan sapa kapan pun. Udemy, CreativeLive, Alison, adalah beberapa contoh situs yang mempertemukan orang yang mau berbagi ilmu dengan siapa pun yang mau belajar. Ratusan ribu pembelajaran siap diakses dari manapun.

Akan tetapi, jika seseorang menganggap internet sebagai tempat yang berbahaya dan negatif, berisi konten-konten yang tidak pantas, membuat orang menghabiskan waktu sia-sia, merusak rumah tangga, dan merusak generasi, maka anggapan itu pun benar adanya. Sudah tak terhitung lagi situs dan video tak pantas yang beredar di internet.

Akan tetapi, ketika anak dijauhkan dari internet di rumah dan di sekolahnya, yang terjadi adalah dia akan mencari akses dari luar itu. Cepat atau lambat dia akan mengenal internet. Masalah besar akan terjadi jika ia belajar tentangnya dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab, yang tidak memiliki ilmu yang cukup, atau bahkan justru memakai internet untuk hal-hal negatif.

Orang tua dan guru yang bijaksana sepatutnya bekerja sama untuk mendampingi anak memasuki dunia maya. Bagaimanapun, internet dan segala di dalamnya adalah kemajuan yang tidak dapat dibendung. Cepat atau lambat dia akan melingkupi dunia setiap generasi di bawah kita. Mencoba menjauhkan mereka dari internet sama halnya dengan membiarkan mereka mencari tahu sendiri, melepaskan mereka di dunia maya tanpa bimbingan yang benar.

Comments

comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

Leave A Comment