Dorongan, Lebih dari Sekedar Pujian

/, Kidos/Dorongan, Lebih dari Sekedar Pujian

Dorongan, Lebih dari Sekedar Pujian

Pikiran manusia itu diciptakan untuk berkembang. Namun untuk benar-benar bisa berkembang, dibutuhkan stimulasi atau rangsangan dari luar. Salah satu stimulasi tersebut adalah kata-kata yang ditujukan kepadanya.

Demikian intisari yang saya tangkap dari paparan Er Supeno, S. Pd., seorang konsultan training dan pengembangan program sekolah, pada acara seminar parenting sekolah si bungsu pekan lalu.

Bagaimana tepatnya maksudnya, beliau jelaskan seperti ini.

Misalnya, ketika anak berhasil menyelesaikan PR-nya dengan cepat, apa yang biasanya tanggapan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya? “Pintarnya”, atau “Hebat”, atau “Siapa dulu dong Mamanya” :). Nggak salah sih. Nah, menurut Pak Er, kata-kata seperti ini akan membentuk mindset bahwa dengan pencapaian seperti itu, si anak sudah pintar, cerdas, dan hebat. Sampai di sini, dia akan berpuas diri, dan bahayanya : tidak ingin mencapai sesuatu yang lebih lagi sehingga akibatnya, ia berhenti berkembang

Nah, Pak Er menyarankan kata-kata yang membuat si anak lebih tertantang. Misalnya, “Keren. Lanjutkan dengan soal berikutnya ya…”, atau “yuk coba bisa nggak kerjakan soal yang ini”. Atau ketika anak selesai membersihkan satu ruangan, bolehlah dia diajak “Yuk, kita bersihkan ruangan yang lain lagi biar bersih juga seperti ini”. Intinya, adalah mengajak dan memberikan tantangan untuk mencapai sesuatu yang lebih dari apa yang sudah dicapainya saat ini.

Pak Er juga menjelaskan dengan mengambil referensi dari Al Quran surah Al-Insyirah ayat 7, yang artinya

“Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.

Dalam ayat ini jelas bahwa manusia tidak boleh berhenti atau berpuas diri ketika sudah menyelesaikan suatu hal. Selama masih hidup, akan selalu ada urusan yang bisa dia kerjakan, akan selalu ada ilmu lebih yang bisa dia pelajari, akan selalu ada kebaikan lainnya yang selalu bisa dia amalkan.

Sayangnya, waktu yang tidak panjang membuat kami tidak bisa mengeksplorasi lebih jauh lagi konsep ini.

Seperti misalnya, Ketika moms mencoba men-challenge anak untuk mengerjakan lebih, mungkin ia akan berpikir “Wah, tambah tugas lagi? Bersihkan ruangan yang lain lagi?”. Atau anak jaman sekarang akan datanya dengan pertanyaan andalannya “Kenapa?”. “Kenapa harus tambah mengerjakan soal lagi? Kan PR dari sekolah cuma segitu dan sudah selesai”. “Kenapa harus bersihkan ruangan yang lain juga? Kan ada kakak atau adik. Kenapa bukan mereka saja?” Nah lho.

Jangankan anak kecil, kita yang orang dewasa saja sering kali merasa berat mengerjakan sesuatu yang lebih kalau tidak mengetahui “Why” di baliknya. Kenapa saya lari pagi ini dan lari 7 km padahal biasanya hanya 6 km saja? Kenapa saya harus membuat presentasi dengan sempurna kalau toh, dengan mengetik isinya saja sudah cukup? Kenapa Moms harus belajar untuk menakar keseimbangan gizi makanan yang mom sediakan padahal, asalkan suami dan anak suka makanan tersebut, masalah sudah beres?

Saya meyakini Allah sudah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan sebesar-besar potensi untuk bertumbuh. Hanya saja, manusia itu harus menemukan dulu a strong why-nya untuk benar-benar bisa men-challenge diri sendiri, membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan dengan demikian bertumbuh setiap hari.

Nah, sekarang ketika Moms ingin mengajukan kata-kata yang mendorong ananda untuk bertumbuh, sudah siapkah Moms untuk menjelaskan jawaban dari pertanyaan “Why” tersebut?

Comments

comments

By | 2018-08-08T23:41:50+00:00 August 8th, 2018|Categories: Edukasi, Kidos|Tags: , , , |0 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

Leave A Comment