Coaching untuk Pemberdayaan Perempuan

//Coaching untuk Pemberdayaan Perempuan

Coaching untuk Pemberdayaan Perempuan

Menjadi ibu rumah tangga atau menjadi wanita karir adalah pilihan yang dihadapi oleh perempuan masa kini. Seringkali kedua hal ini dibenturkan sedemikian rupa sehingga seakan-akan satu pilihan lebih baik dibanding yang lainnya. Padahal, keduanya adalah pilihan yang jika dijalani, sama kompleksnya, sama-sama memiliki konsekuensi, dan tentunya sama-sama memiliki hikmah dan sisi positif masing-masing.

Pada dekade terakhir ini muncul trend baru, yakni perempuan dalam dunia bisnis. Kecanggihan teknologi, derasnya arus informasi dan semakin mudahnya orang mengakses pembelajaran apa pun melalui internet membuat siapa pun mudah mempelajari dan memulai sebuah bisnis. Semakin banyak ibu rumah tangga, wanita karir, atau bahkan mahasiswa yang juga sekaligus adalah pebisnis. Maka perempuan modern pun menjalani tiga peran sekaligus: ibu rumah tangga, wanita karir, dan juga pemilik bisnis.

Menjadi seorang ibu rumah tangga saja sudah cukup kompleks. Berbagai hal akan dialami seorang ibu rumah tangga. Tahun-tahun awal menjadi ibu rumah tangga, seorang perempuan akan disibukkan oleh banyak hal. Mulai dari kelahiran dan tumbuh kembang buah hati, pernak pernik urusan rumah tangga, hubungan dengan keluarga besar, tetangga, hingga terkait urusan pendidikan dan masa depan anak.

Ketika anak-anak sudah besar dan mencapai usia tertentu, seorang ibu kemudian mulai memiliki waktu luang yang lebih banyak. Ia mulai mengamati lingkungan dan masyarakatnya. Ia mungkin melihat ada hal-hal yang tidak berjalan dengan baik dalam lingkungan di sekelilingnya. Seorang perempuan yang cerdas dan memiliki kepedulian tinggi terhadap sekitarnya akan merasakan kegelisahan dan ingin berbuat sesuatu. Apalagi jika ia sadar bahwa ia memiliki potensi yang selama ini belum sempat ia maksimalkan. Kegelisahan itu menjadi semakin besar ketika ia sadar bahwa kondisi lingkungan tersebut akan berpengaruh pula kepada anak-anak dan keluarganya.

Lain halnya dengan wanita karir yang sudah berumah tangga. Karena fitrah sebagai seorang perempuan, pada titik tertentu ia akan merasakan pergolakan di dalam hatinya. Suatu saat, ia akan merasa ingin kembali kepada keluarga. Perwujudannya bermacam-macam. Bisa jadi ia benar-benar ingin beralih menjadi ibu rumah tangga murni. Mungkin pula ia berpikir untuk memulai sebuah bisnis, dengan harapan suatu saat kelak bisnis tersebut secara finansial dapat menggantikan pekerjaannya saat ini. Perasaan ini semakin kuat ketika seiring perkembanan karirnya, organisasi menuntut agar ia bersedia dimutasi ke daerah lain, harus berpisah jauh dari keluarganya.

Kasus-kasus ini hanya beberapa contoh dari kegelisahan yang dialami perempuan baik sebagai ibu rumah tangga atau pun wanita karir. Apalagi ketika kemudian ia memutuskan untuk memulai bisnis, akan lebih banyak lagi area kegelisahan yang akan dialami.

Berbagai kegelisahan dan pemikiran tersebut bercampur aduk menjadi satu seakan menjadi benang kusut di dalam pikiran. Pada titik tertentu, hal ini dapat mengganggu aktivitas dan performansi seorang perempuan baik dia sebagai wanita karir, ibu rumah tangga, atau pun pebisnis. Jika dibiarkan, kondisi fisiknya pun lama kelamaan akan turut terpengaruh.

Salah satu cara untuk menguraikan benang kusut ini adalah dengan memberikan kesempatan dan ruang untuk mengungkapkan semua hal yang selama ini ada di dalam pikirannya. Seorang perempuan membutuhkan orang tempat ia dapat berbagi cita-cita dan keinginannya baik untuk diri sendiri, keluarga, dan anak-anaknya. Ia membutuhkan orang yang dapat mendengarkan kegelisahannya mengenai kondisi lingkungan dan masyarakat, yang menurutnya dengan ilmu dan potensi yang dimiliki, ia mampu berkontribusi untuk memperbaiki kondisi tersebut. Setiap perempuan membutuhkan orang yang ia percayai untuk mendengarkan curahan hatinya tentang hal-hal yang menahannya untuk berbuat lebih, kekhawatiran terdalamnya, serta hal-hal lain yang membuat ia belum sempat memanfaatkan potensi terbesarnya.

Tentang Coaching

Coaching adalah sebuah bentuk percakapan antara seorang coach dengan coachee untuk mengeksplorasi pemikiran coachee, membantu coachee mencapai sebuah harapan tertentu, mengatasi hambatan, mengambil keputusan penting, atau memandang sebuah masalah dari sudut pandang baru demi mencari solusinya.

Menurut ICF (International Coach Federation), Coaching adalah bentuk kemitraan bersama klien (Coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimiliki Coachee dengan proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.

Bagi seorang perempuan, baik ibu rumah tangga, seorang wanita karir atau pun pebisnis, seorang coach akan menjadi teman yang akan menemaninya dalam sebuah perjalanan untuk melihat ke dalam dirinya sendiri, menemukan potensi terbaiknya, membantu ia memetakan pemikirannya, menguraikan benang kusut di dalam kepalanya, mencari cara yang dengannya ia bisa memaksimalkan potensi yang dimilikinya untuk keluarga, komunitas, dan masyarakat.

Sebuah sesi coaching akan menuntun coachee mengidentifikasi hal yang menjadi goalnya, apa makna goal tersebut bagi dirinya, apa yang menghambatnya, dan akhirnya dengan cara apa ia dapat mencapai goal tersebut. Coach akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tepat yang akan membuat coachee berpikir dan mencari jawaban terdalam dari apa yang ia pikirkan dan rasakan.

Ke arah manapun perjalanan eksplorasi tersebut, coach akan menemani coachee untuk memastikan bahwa ia mampu untuk sampai pada hal terpenting dan paling bermakna yang ingin diraih sang coachee. Sering kali apa yang tampak di permukaan, yang diungkapkan coachee secara eksplisit, bukanlah hal sesungguhnya yang ia pikirkan dan rasakan. Di akhir sesi coaching, seorang ibu rumah tangga yang pada awalnya merasa ingin berbisnis, bisa saja kemudian memutuskan untuk tetap menjadi ibu rumah tangga murni. Seorang wanita karir yang ingin mulai membangun usaha sendiri, bisa saja mengambil keputusan untuk menjadi ibu rumah tangga murni, atau bahkan memutuskan untuk tetap fokus menjalani karirnya.

Maka pada dasarnya sesi coaching akan membantu coachee untuk bercermin dan melihat pantulan sesungguhnya dari dirinya. Apa yang ia inginkan, apa yang ia butuhkan, dan ke arah mana sesungguhnya ia ingin melangkah. Di akhir sesi, ia bisa menemukan jalan untuk bisa meraih harapannya, menantang keberaniannya untuk memulai hal baru, mengembangkan dan mengaktualisasikan diri. Atau, ia bisa saja tetap bertahan pada posisi awalnya, akan tetapi, ia akan melihat peran lama tersebut dari sudut pandang baru dan meyakini bahwa dengan cara itulah ia paling dapat berkontribusi maksimal dan menjadikan makna dalam hidupnya.

Kepercayaan Penuh

Penting bagi seorang perempuan untuk menemukan coach yang ia rasa cocok, nyaman diajak berbicara, dan dapat ia percayai penuh agar sesi coaching yang dijalani memberikan hasil yang lebih efektif. Kunci keberhasilan dari setiap sesi coaching adalah kepercayaan penuh. Seorang coach harus mendapatkan hal tersebut dari coachee-nya. Coachee harus berada pada kondisi percaya sepenuhnya sehingga ia mau terbuka terhadap apa yang ada di dalam pikirannya, apa yang ia rasakan dan apa yang mengganjal dalam hatinya. Tanpa keterbukaan penuh, tak perlu heran jika coachee akan merasa keputusan atau action plan dari hasil sesi coaching tersebut tidak sesuai dengan apa yang dia harapkan.

Salah satu hal yang dapat menjadi penghambat umum yang membuat seorang coach tidak mendapatkan kepercayan penuh dari coachee adalah perbedaan gender. Terutama apabila sesi coaching tersebut melibatkan penggalian emosi yang agak dalam. Seorang coach profesional pada dasarnya terlatih dan terikat secara etika untuk tidak terlibat secara emosi dengan coachee-nya. Akan tetapi, seorang perempuan yang ingin mendapatkan sesi coaching berhak untuk memilih dengan siapa ia merasa nyaman untuk terbuka. Sebab sekali lagi, keterbukaan coachee sangat penting dalam efektifitas sesi coaching. Untuk itu, seorang coachee perempuan yang ingin melakukan sesi coaching berhak dan perlu mempertimbangkan hal tersebut.

Kesimpulan

Metode coaching berangkat dari keniscayaan bahwa setiap orang diciptakan Tuhan dengan potensi dan kelebihan masing-masing. Hanya saja, tidak semua orang menyadari potensi yang ada pada diri mereka sendiri.

Seorang coach profesional adalah orang yang terlatih untuk dapat menjadi cermin yang jernih bagi coachee agar coachee dapat melihat pantulan dirinya sendiri, menggali pemikiran dan kreativitasnya, memaksimalkan potensi dirinya untuk mencari solusi, mencapai goal, dan mengatasi kendala.

Karena dalam prosesnya dibutuhkan keterbukaan, seorang coach harus mendapatkan kepercayaan total dari coachee-nya. Untuk itu, coachee harus dapat secara natural merasa aman dan nyaman terhadap coach-nya agar sesi coaching dapat memberikan hasil yang efektif. Coachee berhak dan perlu memilih coach yang dapat membuat ia merasakan hal tersebut.

Comments

comments

By | 2018-12-07T13:35:34+00:00 December 7th, 2018|Categories: Coaching|Tags: , , , , , , |0 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

Leave A Comment