Antara Kesombongan dan Mengakui Kelebihan Diri

/, Edukasi, Opini, Self Development/Antara Kesombongan dan Mengakui Kelebihan Diri

Antara Kesombongan dan Mengakui Kelebihan Diri

Apa yang menjadi kelebihan kamu?

Adalah salah satu pertanyaan umum yang paling sering ditanyakan dalam sesi wawancara atau assesment. Hingga beberapa tahun yang lalu, terus terang saya selalu gugup (dan gagal) dalam assesment karena tidak siap dengan pertanyaan ini. Bagi saya saat itu, pertanyaan tersebut sangat annoying, seakan memaksa saya untuk keluar dari diri saya yang sebenarnya, berubah menjadi orang lain yang tidak saya senangi.

Pertama, saya merasa tidak memiliki kelebihan apa-apa sehingga tidak cukup percaya diri untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Kedua, seandainya pun saya tahu bahwa saya memiliki sebuah kelebihan, tidaklah terasa nyaman untuk mengungkapkan atau mengklaim hal tersebut. Ada keyakinan di dalam hati saya saat itu yang menganggap bahwa mengklaim diri memiliki kelebihan tertentu adalah sebuah bentuk kesombongan. Lebih jauh lagi, saya menganggap bahwa sewajarnya untuk menilai kelebihan dan juga kekurangan seorang karyawan adalah tugas HRD atau atasan, dan bukan tugas karyawan itu sendiri. Saya belum dapat menerima konsep tentang menilai diri sendiri secara adil.

Potensi dan Kelebihan Diri

Bertahun-tahun kemudian, saya belajar tentang Coaching. Sejak hari pertama, kami diingatkan dan dipahamkan bahwa semua orang terlahir memiliki potensi. Masalah apa pun yang dihadapi seseorang, sesungguhnya ia punya kemampuan untuk menemukan solusi dari dalam dirinya sendiri. Goal apa pun yang dicapai seseorang, sesungguhnya ia punya potensi  untuk meraihnya. Dalam pemahaman saya, jika setiap orang memiliki potensi, itu berarti setiap orang pun memiliki kelebihan.

Dengan konsep tersebut, saya kemudian menyadari bahwa pertanyaan tentang kelebihan diri adalah pertanyaan penting bagi siapa pun. Bukan hanya penting dalam sesi wawancara atau assesment, akan tetapi penting bagi mereka yang ingin bergerak maju. Layaknya seorang panglima  perang yang harus mengetahui dengan pasti seberapa besar kekuatan pasukannya, apa kelebihan yang ia miliki dari segi posisi, jumlah, persenjataan, dan lain-lain yang bisa ia manfaatkan untuk memenangi perang itu. Demikian pula halnya dengan setiap dari kita. Sebab, pada dasarnya, setiap orang sedang berperang melawan dirinya  sendiri untuk bisa bertumbuh menjadi lebih baik.

Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk (QS At-Tin:4), dengan akal pikiran (QS Al-An’am:32, Al-Ma’idah:58, dan ayat-ayat lain), dengan potensi untuk kebaikan (dan juga keburukan) (QS As-Syams). Kisah-kisah dalam kehidupan nyata di sekitar kita pun membuktikan, orang-orang yang menurut anggapan kita “berbeda” atau “disabled”, mampu untuk bertumbuh mencapai prestasi jauh melampaui orang-orang “normal”. Sebut saja nama Helen Keller, Temple Grandin, Franklin D. Roosevelt, W. A. Mozart, dan kita bisa menemukan sederatan nama-nama olahragawan peraih medali emas dalam Paralympics yang memperlihatkan prestasi melampaui pemikiran umum, membuktikan bahwa setiap orang telah Allah berikan potensi dan kelebihan.

Mengenal Diri atau Menyombongkan Diri?

Mengakui dengan jujur dan mengklaim diri memiliki kelebihan tertentu bukanlah kesombongan, meskipun tipis perbedaannya. Kisah tentang Nabi Yusuf di dalam Al-Qur’an menceritakan bahwa atas izin Allah, beliau menyatakan kelebihan yang dititipkan Allah kepadanya, dan tidak ada celaan untuk beliau dalam hal ini. “Berkata Yusuf: ‘Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi sangat berpengetahuan’.” (QS Yusuf:55)

Dalam Islam, “kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR. Muslim, no. 2749, dari Abdullah bin Mas’ud). Maka perbedaan tipis antara mengakui kelebihan diri dengan kesombongan adalah, ketika kelebihan tersebut kita anggap sebagai kehebatan diri semata dan dengannya kemudian membuat kita meremehkan orang lain. Selanjutnya, kita menjadi lupa bahwa kelebihan tersebut adalah anugerah dari Allah ta’ala jua. Saat itulah kita perlu berhati-hati.

Tanggung Jawab Masing-masing

Yang terakhir, tak ada yang lebih mengenal seseorang selain dirinya sendiri. Tak ada yang lebih berkepentingan untuk seseorang dapat bertumbuh menjadi lebih baik selain dirinya sendiri. Maka, menemukan kelebihan (dan juga kekurangan) diri, sadar atasnya, bukanlah tugas orang lain, bukan pula tugas atasan atau pun pihak HRD. Adalah suatu kesyukuran dan keberuntungan besar jika kita memiliki atasan atau team HRD yang peduli akan hal tersebut. Akan tetapi, tak ada yang menjamin bahwa Anda akan selalu bisa mendapatkan hal tersebut dari orang lain, bahkan dari sahabat terdekat sekalipun. Maka, tanggung jawab untuk mengenali kelebihan diri adalah tanggung jawab diri masing-masing.

Mencari tahu kelebihan diri sendiri dan kemudian mengakuinya, tidak ada hubungannya dengan kesombongan. Bahkan, lebih jauh lagi, menyatakan bahwa diri tidak memiliki kelebihan adalah sebuah bentuk penolakan terhadap nikmat Allah yang telah diberikan-Nya kepada kita sejak lahir.

Comments

comments

By | 2018-12-26T11:25:59+00:00 December 26th, 2018|Categories: Coaching, Edukasi, Opini, Self Development|Tags: , , , , , |0 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

Leave A Comment