Coaching, Perjalanan ke Dalam Diri

//Coaching, Perjalanan ke Dalam Diri

Coaching, Perjalanan ke Dalam Diri

Pada acara graduation day kami dari program Loop Certified Professional Coach Program (Loop CPCP) awal Maret 2019 yang lalu, Coach Kurnia Siregar, guru dan mentor kami, menitipkan beberapa pesan. Salah satu pesan beliau adalah bahwa profesi sebagai coach saat ini belum terlalu dikenal di Indonesia. Tidak seperti di luar negeri yang sudah cukup mapan, para professional coach di Indonesia masih perlu bekerja keras untuk memperkenalkan tentang “coaching yang sesungguhnya” kepada masyarakat.

Nah, Anda saat ini mungkin tiba-tiba mengernyitkan dahi. Profesi “coaching yang sesungguhnya”? Ada apa nih? Apakah ada yang perlu diluruskan dengan pemahaman Anda saat ini tentang “coaching”?

Dalam beberapa forum yang sempat saya hadiri, ada beberapa reaksi orang ketika mereka ditanya tentang apa itu “coaching” atau siapa itu “coach”. Pada umumnya, kata “coach” mengingatkan mereka pada pelatih olah raga. Penggemar sepak bola sangat tidak asing dengan kata ini.

Definisi yang lain lagi adalah coach bisnis. Booming semangat entrepreneur dan tumbuhnya berbagai start-up membuat orang berbondong-bondong mencari coach bisnis. In fact, coaching bisnis adalah salah satu bagian dari spesialisasi professional coach. Meskipun dalam prakteknya, coaching bisnis sering kali bercampur dengan fungsi mentoring.

Di tempat lain, dalam beberapa kesempatan ngobrol bersama team karyawan outsource, saya mendapati bahwa kata coaching biasanya digandengkan dengan konseling. Namun, coaching dan konseling ternyata menjadi alergi tersendiri bagi mereka. “Kalau bisa, jangan sampai deh dapat coaching dan konseling”, begitu reaksinya. Tindakan coaching dan konseling biasanya akan mereka dapatkan jika tidak mencapai target atau melakukan kesalahan prosedur baik yang disengaja maupun tidak.

Defini Coaching dari ICF

Ijinkan saya memperkenalkan definisi coaching yang kami pelajari di sekolah Coaching Loop Institue, sesuai dengan definisi dari ICF (International Coach Federation).

ICF adalah badan internasional yang menaungi profesi coach secara global, untuk menjamin profesi ini menjadi bagian dari komunitas yang memiliki guideline dan standard etika profesional.

Menurut ICF, coaching adalah “bermitra dengan klien dalam sebuah percakapan yang memprovokasi dan menstimulasi proses kreatif yang menginspirasi klien untuk mengeluarkan dan memaksimalkan potensi pribadi dan profesional mereka”. Tujuan dari setiap sesi coaching pada umumnya adalah menemani coachee untuk bergerak dari posisinya saat ini ke level yang lebih tinggi sesuai harapan coachee, dengan memaksimalkan potensi-potensi dirinya.

bermitra dengan klien dalam sebuah percakapan yang memprovokasi dan menstimulasi proses kreatif yang menginspirasi klien untuk mengeluarkan dan memaksimalkan potensi pribadi dan profesional mereka

Coach = Kereta

Jika Anda mencari terjemahan di Google Translate, Coach secara umum diterjemahkan sebagai “pelatih”. Namun, selain itu Anda akan melihat arti lain dari Coach yang menurut saya lebih klasik dan filosofis.

Yes, “Kereta”. Ada alasan mengapa logo dari merek terkenal Coach adalah seperangkat kereta kuda lengkap dengan kuda dan saisnya. Coach adalah kosa kata untuk kereta kuda jaman dahulu. Kereta kuda ada untuk mengantarkan penumpang dengan aman dan nyaman dari satu tempat ke tempat lain yang ingin dituju. Secara filosofi dasar, inilah yang menjadi basis dari profesi seorang Coach.

Di Loop Institute, kami diajarkan bahwa pada dasarnya, coaching merupakan salah satu metode pembelajaran di samping metode-metode pembelajaran lainnya seperti training, mentoring, consulting, dan konseling.

Terdapat perbedaan mendasar antara coaching dengan proses pembelajaran lainnya tersebut. Pada kegiatan training, mentoring, dan consulting, peserta menjadi objek dari proses pembelajaran. Trainer, mentor, dan konsultan adalah orang yang lebih berpengalaman dan lebih berpengetahuan yang mentransfer ilmunya kepada peserta. Topik pembelajaran atau transfer pengetahuan dilakukan berdasarkan flow yang sudah ditentukan oleh trainer/mentor/konsultan. Sifatnya outside-in.

Sedangkan pada proses coaching, peserta/coachee adalah subjek utama. Proses coaching berjalan mengikuti agenda dan kepentingan coachee. Coachee menjadi bintang, orang yang paling penting dalam proses coaching.

Orang bisa saja dipaksa untuk duduk di dalam kelas menjadi peserta training, mentoring, atau mengikuti apa yang direkomendasikan konsultan. Akan tetapi dalam coaching, coachee tidak dapat dipaksa mengikuti agenda coach. Bahkan, jika coachee tidak ingin di-coaching, proses coaching tidak dapat berlangsung. Coaching harus berlangsung dengan kerelaan kedua belah pihak.

Proses coaching adalah percakapan antara dua orang yang posisinya sama, sebagai mitra atau partner. Coach tidak harus lebih tahu atau lebih ahli dibandingkan coachee.

Lalu, kemampuan apa yang diandalkan seorang Coach? Seorang coach profesional terlatih untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terarah untuk membantu coachee menggali potensi dirinya sendiri. Coach akan mengajak coachee untuk memetakan posisinya saat ini dan posisi yang ingin ia tuju, dan memilih jalan mana yang harus ia tempuh untuk bisa tiba di sana.

Proses pembelajaran coaching adalah inside-out. Bersama seorang coach, coachee akan mengalami perjalan ke dalam dirinya sendiri, dan melakukan penggalian untuk mengeluarkan sisi terbaik dari dirinya.

Picture : Travel photo created by rawpixel.com – www.freepik.com

Comments

comments

By | 2019-06-08T07:07:32+00:00 June 8th, 2019|Categories: Coaching|Tags: , , , , |0 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

Leave A Comment