Buku Pertama 2015 : The Power of Habit

///Buku Pertama 2015 : The Power of Habit

Buku Pertama 2015 : The Power of Habit

Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menambahkan satu lagi daftar buku yang selesai saya baca di tahun 2015 ini. Meskipun awalnya cukup sulit, sebab seperti kutu loncat, ada beberapa buku yang jadi pilihan untuk saya baca di awal Januari. Namun akhirnya saya jatuh hati pada buku The Power of Habit yang ditulis oleh Charles Duhigg.

book01

The Power of Habit memaparkan bagaimana orang bisa memiliki kebiasaan-kebiasaan tertentu, baik dengan sengaja maupun tidak. Temanya terkait psiko-neurologi, bidang yang menurut saya cukup berat. Namun Duhigg mampu membuat buku ini mengalir, tidak membosankan, enak dibaca oleh orang awam sekalipun seperti saya.

Buku ini menjadi menarik karena contoh-contoh kasus yang dibahas adalah contoh kasus nyata yang sebenarnya sederhana, disajikan dalam bentuk naratif dengan penjelasan ilmiah yang mudah dicerna. Kkesederhanaan contoh-contoh kasus yang disajikan itulah yang membuat saya merasa dekat dan mudah memahami setiap penjelasanya.

Ada satu bagian dalam buku ini yang membuat saya sangat terkesan. Bagian tersebut menceritakan sepenggal cerita tentang perusahaan raksasa di Amerika yang bergerak di bidang peleburan aluminium, Alcoa, bagaimana mereka berubah dari perusahaan dengan performa yang menurun hingga menjadi salah satu perusahaan yang berkinerja terbaik di Dow Jones.

Di tahun 1987, Alcoa mendapat CEO baru. Sejak pidato pertamanya, CEO baru ini tidak pernah berbicara tentang bagaimana ia akan menaikkan pendapatan perusahaan dan memberikan laba yang lebih besar bagi para pemegang saham.  Yang dilakukannya adalah justru memfokuskan perhatian pada keselamatan karyawan. Ia memasang target nol kecelakaan alih-alih pertumbuhan pendapatan  atau kenaikan harga saham.

Sebagai perusahaan yang melakukan pengolahan aluminium, Alcoa memiliki pabrik-pabrik dengan peralatan berat untuk melebur dan menempa aluminium yang pengoperasiannya perlu memperhatikan prosedur-prosedur keamanan khusus. Kecelakaan karyawan di lingkungan pabrik sudah menjadi hal yang dimaklumi untuk sekian lama. Namun sang CEO baru justru memasang target nol kecelakaan. Ia ingin memfokuskan kepemimpinannya untuk membuat perubahan pada satu hal yang mungkin tampak kecil bagi orang-orang yang tidak berhubungan langsung dengan operasional, namun sangat penting bagi orang-orang lapangan dan terutama para karyawan pekerja pabrik.

Singkat cerita, dengan segala tantangan dan kendala yang dihadapinya, CEO baru tersebut berhasil membuat Alcoa menjadi perusahaan paling aman di dunia, bukan hanya dibandingkan dengan jenis perusahaan yang sama, namun juga dengan perusahaan-perusahaan lain yang secara kasat mata mestinya jauh lebih aman daripada perusahaan peleburan logam. Secara statistik, “rata-rata, pekerja lebih berkemungkinan cedera di perusahaan piranti lunak, saat membuat animasi kartun untuk studio film, atau menghitung pajak sebagai seorang akuntan daripada menangai aluminium leleh di Alcoa” (Duhigg, 2012:124).

Efek samping dari perubahan tersebut adalah Alcoa mendapatkan peningkatan produktivitas karyawan, yang otomatis meningkatkan produktivitas pabrik. Pada gilirannya, pendapatan perusahaan ikut terdorong dan harga saham Alcoa semakin tinggi.

Duhigg juga memberikan sebuah contoh kasus lain, seorang ibu rumah tangga yang secara tidak sengaja “membangun” kebiasaan berjudi sehingga menjadi pecandu judi. Setelah beberapa tahun, ia menghabiskan warisannya yang banyak, menggadaikan rumahnya di meja judi, dan menyisakan hutang ratusan ribu dollar pada pihak kasino. Ketika akhirnya pihak kasino menggugat si Ibu di pengadilan agar ia melunasi hutang-hutangnya, wanita tersebut berdalih bahwa ia terjerat kebiasaan dan tidak punya kendali pribadi atas apa yang perilakunya. Namun argumen ini ditolak pengadilan dan ia dinyatakan bersalah.

Dalam kesempatan lain, pengadilan memutuskan tidak bersalah pada seorang suami penderita gangguan neurologis somnabulisme atau sleepwalking, tidur sambil berjalan, yang dalam keadaan tidur membunuh istri tercintanya, lantaran sang suami mengira rumah mereka sedang disatroni orang jahat. Argumen yang diajukan untuk Sang Suami ini sama dengan argumen yang diajukan oleh wanita pada kasus pertama, yaitu Sang Suami tidak memiliki kendali atas tindakannya, sehingga tidak dapat dimintai pertanggungjawaban. Pengadilan membebaskan sang Suami yang malang dan menghukum si wanita korban kebiasaan berjudi. Alasan yang sama, namun keputusan yang berbeda. Mengapa? Di mana letak perbedaannya?

Pada intinya, apa yang ingin disampaikan Charles Duhigg dalam buku ini adalah bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab penuh atas kebiasaan-kebiasaan yang dibangunnya, baik atau pun buruk, secara sengaja maupun tidak sengaja. Di bagian akhir, Duhigg memformulasikan resep untuk mengubah sebuah rantai kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik. Pendekatan Duhigg bukanlah menyarankan untuk menghentikan sebuah kebiasaan, karena menurutnya cara itu tidak efektif. Yang ia sarankan adalah merubah kebiasaan tersebut.

Menurut teori yang dikemukakan Duhigg, seseorang membangun sebuah kebiasaan karena adanya dua faktor, yakni pemicu dan reward. Contohnya kebiasaan menggosok gigi. Kenapa kita menggosok gigi? Misalnya kita menggosok gigi setiap pagi pada saat mandi. Maka mandi pagi ini adalah faktor pemicunya. Tanpa sadar, setiap kali mandi di pagi hari, secara otomatis tangan akan mengambil sikat gigi, mengoleskan pasta gigi, dan menyikat gigi. Inilah kebiasaan. Apa yang kita dapatkan ketika selesai menyikat gigi? Rasa segar di dalam mulut dan dengan demikian kita merasa yakin bahwa gigi dan mulut sudah bersih. Ini adalah rewardnya.

Pada dasarnya, rasa segar (mint) itu tidak ada hubungannya dengan kebersihan gigi kita. Namun merasakan sensasi kesegaran adalah sebuah reward tersendiri, menurut istilah Duhigg, yang melengkapi rantai kebiasaan kita. Tanpa adanya rasa segar di dalam mulut, orang tidak merasa mendapatkan hasil apa-apa dari menyikat gigi. Hal ini menjelaskan fakta terkait Pepsodent sebagai merek pasta gigi pertama yang menambahkan sensasi segar pada pasta giginya, adalah yang pertama kali sukses menumbuhkan kebiasaan menyikat gigi orang-orang Amerika. Sebelum Pepsodent sudah ada merek pasta gigi lainnya dan orang-orang sudah menyikat gigi. Hanya saja menyikat gigi pada saat itu tidaklah menjadi kebiasaan hingga munculnya Pepsodent dengan pasta gigi rasa mint segar.

Rumus yang sama berlaku pula untuk kebiasaan-kebiasaan lainnya.  Maka untuk mengubah suatu kebiasaan buruk, kita perlu untuk terlebih dulu mencari tahu apa yang menjadi faktor pemicu dan reward dari kebiasaan kita tersebut. Setelah itu, barulah kita bisa merubah kebiasaan yang berlangsung di antara faktor pemicu dan reward ini.

Nah, bagaimana detailnya cara mengidentifikasi faktor pemicu dan reward dalam kebiasaan buruk yang sudah tertanam pada diri kita? Lalu hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan sebagai alternatif pengganti kebiasaan buruk yang ingin kita ubah tersebut? Anda bisa membaca buku ini lebih lanjut untuk mengetahui lebih jauh.

Comments

comments

By | 2015-05-04T20:50:44+00:00 February 28th, 2015|Categories: Good Readings|Tags: , , |6 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

6 Comments

  1. Gusti Indah Primadona March 1, 2015 at 7:09 am - Reply

    pernah liat buku ini di toko buku…tapi ragu-ragu belinya 😀
    makasih resensinya ya 🙂

  2. syaiful sumbagteng March 1, 2015 at 3:08 pm - Reply

    Nice share mbak Cheeq

  3. Ceria Wisga March 2, 2015 at 3:53 am - Reply

    Wah kayaknya buku ini wajib punya, tenkyu infonya mbak 🙂

    • Cheeqa Rahmat March 2, 2015 at 6:07 am - Reply

      sama-sama mbak.. Senang bisa berbagi sesuatu, semoga membawa manfaat.. Selamat merubah kebiasaan ya … ;p

Leave A Comment