Pensil

Pensil

Malam ini saya melihat Dian (Kelas 6) menghapus satu bagian PR-nya yang salah dengan cat akrilik warna putih miliknya.

“Makanya, mama bilang kan lebih baik pakai pensil saja kalau matematika. Mama dulu waktu SMA saja pakai pensil, jadi PR-nya tetap rapi” kataku.

“Iya, Dian juga mau sih. Tapi kata ibu guru tidak boleh. Katanya masak masih kayak anak kelas satu saja. Bahkan kalau menulis Arab pun tidak boleh pakai pensil juga. Padahal kan Dian sering keseleo kalau menuris Arab” balas Dian.

Pencil03

 

Ya, waktu SMA saya memang menggunakan pensil khusus untuk pelajaran matematika. Jadi kalau ada angka atau rumus yang salah, saya tidak butuh banyak-banyak pen corrector yang seperti cat itu di buku saya. Cukup dihapus dengan penghapus karet. Hasilnya lebih bersih. Dengan begitu, saya tidak perlu ragu-ragu menulisi buku PR atau bahkan kertas ulangan. Dengan demikian, pekerjaan tersebut juga bisa lebih cepat selesai. Untungnya, guru matematika kami waktu itu pun cukup bijak. Meskipun sudah amat sangat senior, beliau belum pernah sekalipun menegur saya karena menggunakan pensil di atas kertas ulangan.

Lagi pula saya tidak terlalu suka menggunakan pen corrector. Biasanya selalu saja ada masalahnya. Dulu pen corrector berbentuk cair, cat putih yang harus diencerkan dengan cairan thinner. Saya tidak suka baunya. Saat-saat tertentu, kalau tidak benar mencampurnya, pen corrector cair ini biasanya menggumpal, atau bahkan terlalu encer. Tulisan pena yang dituliskan di atasnya pun jadi keriting. Sekarang memang banyak pen corrector kering yang terbuat dari kertas. Tapi tetap saja masalahnya banyak. Biasanya pita kertasnya macet atau cat keringnya tidak terlepas seluruhnya dari kertas.

Sampai hari ini sayapun masih senang menulis dengan pensil. Jika kualitas kayunya cukup baik, saya bisa mencium aroma khas pensil yang bagi saya menyenangkan. Saya juga suka mendengarkan suara grafit yang bergesekan dengan kertas ketika menulis. Pun saya menyukai sensai getaran halus pensil di jari jemari saya ketika saya menggoreskannya di atas kertas. Banyak seniman telah membuktikan karya-karya sketsa yang tak kalah indahnya dengan lukisan cat, hanya dengan pensil.

Jadi jelaslah bahwa menulis dengan pensil bukanlah kebiasaan kelas yang lebih rendah (kelas satu SD?). Saya tidak tahu, apakah ada aturan tertulis yang menyatakan siswa di atas kelas tertentu sudah tidak boleh menulis dengan pensil lagi. Toh, nyatanya, kertas ujian nasional beberapa tahun terakhir ini juga diisi dengan pensil. Juga meeting-meeting elit yang digelar di hotel acapkali menyediakan pensil tanpa pulpen.

Terus terang saya tidak menemukan esensi pendidikan tertentu dalam keharusan menggunakan pulpen di sekolah, ataupun pelarangan penggunaan pensil ketika mencapai kelas tertentu. Saya bukanlah hendak mengkampanyekan pensil. Tidak, tak ada tendensi apa-apa. Hanya saja, menurut saya sekolah dan guru mestinya bisa lebih membebaskan siswa untuk menggunakan peralatan tulis menulis apa pun yang mereka rasa nyaman. Yang penting, mereka memahami pelajarannya, tahu cara menerapkan dan mau mengamalkan apa yang telah mereka pelajari.

Jadi pensil, mengapa tidak?

Comments

comments

By | 2015-05-06T05:13:53+00:00 April 4th, 2015|Categories: Edukasi, Kidos|Tags: , |2 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

2 Comments

  1. menik April 9, 2015 at 8:01 am - Reply

    saya sampai kuliah masih pake pensil mak, bahkan waktu ujian pun kalo pake bolpen malah dikasih nilai 0 ama dosennya (walau untuk mata kuliah tertentu sih) hahaha

Leave A Comment