Mempersiapkan Pensiun

/, Opini/Mempersiapkan Pensiun

Mempersiapkan Pensiun

Sebuah perusahaan besar di usianya yang masih cukup muda, mulai melepas beberapa karyawannya untuk pensiun normal. Tersebutlah satu atau dua cerita ketika karyawan yang mengalami pensiun tersebut tiba-tiba mengalami sakit dan perlu dirawat di rumah sakit. Kabar ini tersebar di sebagian besar karyawan melalui mailing list perusahaan. Maka karyawan di perusahaan tersebut seperti tersadar dan kasak kusuk meminta agar perusahaan memberikan program persiapan pensiun yang baik bagi karyawannya, terutama agar karyawan tidak mengalami Post Power Syndrome. Ada yang membandingkan dengan perusahaan sejenis yang tetap memberikan “gaji” tunjangan pensiun setiap bulan, ada pula yang menyebutkan perusahaan lain yang mempersiapkan persiun karyawan bertahun-tahun sebelum datangnya masa pensiun.

Saya tentu sangat setuju apabila setiap perusahaan memberikan program persiapan yang matang bagi para karyawan. Tapi tentu itu adalah kebijakan perusahaan yang sangat ditentukan oleh komisaris dan manajemen tingkat tinggi. Menyalurkan aspirasi kepada manajemen tentu saja boleh-boleh saja. Tapi yang paling penting bagi saya adalah individu karyawan itu sendiri yang berinisiatif mempersiapkan diri untuk pensiun kapan pun.

Di suatu tempat di wilayah comfort zone, boleh jadi seseorang menjadi tidak hanya berharap, tapi menganggap bahwa ia akan berada di situ selamanya. Akibatnya ia tidak peka dengan perubahan dan lupa bahwa suatu hari, perubahan itu akan datang. Sepertinya halnya pensiun, yang bagaimanapun akan terjadi. Jika perusahaan baik-baik saja dan semua orang panjang umur, maka karyawan akan mengalami pensiun normal. Jika perusahaan tidak baik-baik saja, tidak tertutup kemungkinan terjadi pengurangan karyawan (baca : HSBC dan MAS). Jika perusahaan baik-baik saja tapi terjadi sesuai dengan dirinya, misalnya sakit atau bahkan tutup usia, maka ia terpaksa pensiun. Maka sebenarnya setiap individu harus menyadari bahwa comfort zone itu semu. Bahwa selalu ada yang mengancam kenyamanan kita.

Sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan tentu saja terhadap keluarga, setiap orang wajib aware akan segala hal yang mengancam kenyamanannya dan kenyamanan keluarganya. Bahkan ia harus mempersiapkan diri dan keluarganya apabila kenyamanan itu dicabut secara tiba-tiba. Tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan itu sendiri.

Maka bagi saya, tanggung jawab untuk mempersiapkan masa pensiun bukanlah milik perusahaan. Adalah baik jika perusahaan mengambil tanggung jawab itu sebagian. Tapi yang paling penting, porsi tanggung jawab tersebut justru harus lebih besar dari sisi individu karyawan sendiri. Misalnya perusahaan sudah memberikan program persiapan pensiun yang baik, tapi individu sang karyawan sendiri tidak aware, tidak akan efektif hasilnya. Tapi jika individu karyawan sendiri aware, tanpa ada program apa pun dari perusahaan, maka ia akan bersiap-siap dan jauh dari power post syndrome.

Ada banyak program, kegiatan, dan pemikiran yang bisa diikuti untuk mempersiapkan diri terhadap perubahan. Seorang teman saya rajin mengikuti berbagai pelatihan, menulis buku, belajar berbagai macam keterampilan, dan melatih komunitas tertentu. Kini ia hadir di berbagai talk show. Saya pikir dia sudah siap pensiun kapan pun. Padahal usianya masih sangat muda. Seorang teman yang lain sudah menjadi instruktur diver dan bersiap membuka pusat sertifikasinya sendiri. Teman yang lain lagi memiliki berhektar-hektar kebun sawit dan sedang bersiap-siap memetik panen perdana. Bagi saya, mereka adalah contoh orang-orang yang bersiap-siap jika suatu saat perubahan itu terjadi pada perusahaan dan pada diri mereka.

Kuncinya adalah tidak menggantungkan diri kepada perusahaan. Benar bahwa kita memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan, dan perusahaan menggaji karyawan, memberikan bonus-bonus ini dan itu hingga karyawan bisa membeli rumah bagus, mobil, naik haji, jalan-jalan ke luar negeri, dan segudang kemewahan lainnya. Tapi banyak orang yang sering lupa bahwa perusahaan hanyalah salah satu pintu rezeki dari Allah. Bahwa rezeki itu bukan dari perusahaan tempatnya bekerja, tapi dari Allah. Bahwa perhatian dari perusahaan, penghormatan dari bawahan adalah anugerah sementara dari Allah, dan adalah hak prerogatif-Nya untuk mencabut semua itu baik perlahan-lahan ataupun sekaligus.

Maka setiap orang boleh koq mengetuk banyak pintu rezeki Allah melalui semua jalan. Menyampaikan aspirasi kepada perusahaan, tentu saja boleh. Tapi usaha dan doa terbaik paling layak ditujukan kepada Allah.

Comments

comments

By | 2015-12-30T00:20:34+00:00 June 12th, 2015|Categories: Gaya Hidup, Opini|Tags: , , |1 Comment

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

One Comment

  1. Titaz December 4, 2015 at 8:13 am - Reply

    Tulisannya bagus. Memang benar sih, kita harus bertanggung jawab dengan diri sendiri. Apalagi jika sudah punya keluarga. Entah urusan persiapan pensiun ataupun dana kesehatan. thank you for sharing 🙂

    Hello!
    Titaz
    http://www.titaztitaz.com

Leave A Comment