Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri?

/, Kidos, Opini/Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri?

Kerja Kelompok atau Kerja Sendiri?

“Mama lebih senang mana, kerja kelompok atau kerja sendiri-sendiri?” Tanya Dian pagi ini.

“Mmmm… kalau mama sih, lebih senang kerja sendiri. Tapi tiap orang beda-beda” saya menjawab hati-hati. Saya tidak ingin dia menilai profil yang satu lebih baik dari yang lain.

“Sama, Dian juga” katanya sambil nyengir.

“Kenapa?” saya memancing.

“Hmm.. sebenarnya dulu Dian senang kerja kelompok. Rasanya rame dan asyik, gitu. Tapi itu… teman-teman kelompok Dian biasanya suka nyerahin semua kerjaan ke Dian dan mereka santai-santai aja. Akhirnya banyak deh yang mau sekelompok sama Dian. Makanya Dian inginnya kerja sendiri-sendiri aja, supaya semuanya kerja” jelasnya panjang lebar.

Olala… Rupanya kasusnya tidak berubah sejak jaman dahulu kala.

Sebenarnya banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari kerja kelompok. Misalnya, kita belajar berbagi tugas, yang artinya berbagi tanggung jawab. Dengan demikian setiap orang bertanggungjawab terhadap tugas masing-masing. Pertanggungjawabannya bukan hanya kepada diri sendiri, tapi juga kepada anggota kelompok yang lain.

Ketika tugas bagian kita tidak selesai, maka tugas seluruh kelompok dianggap tidak selesai dan seluruh kelompok jadi mendapatkan nilai jelek atau kehilangan nilai sama sekali. Inilah yang biasanya jadi kekhawatiran anggota kelompok yang punya target tinggi.

Ibu dan bapak guru biasanya menilai hasil akhir kelompok saja, tanpa menilai kontribusi setiap anggota. Jadi apabila tugas tidak selesai karena satu orang, maka seluruh anggota kelompok kena getahnya. Sedangkan jika tugas selesai dengan baik, seluruh anggota kelompok turut terciprat minyak wangi, tidak peduli hanya beberapa orang saja yang sebenarnya berkontribusi dalam penyelesaian tugas itu.

Mau tidak mau, anggota kelompok yang rajin dan mempunyai target tinggi akan selalu berusaha menyelesaikan tugas kelompoknya, tidak peduli bersama anggota kelompok yang lain ataupun dia harus menyelesaikannya sendiri. Kalau dia sensitive, mungkin dia diam-diam akan merasa terdzalimi, dan jadi antipati terhadap kerja kelompok.

Di dalam kelas, tidak mudah untuk begitu saja mengklaim bahwa suatu pekerjaan adalah pekerjaan beberapa orang atau bahkan salah satu orang saja. Tidak mudah juga untuk melaporkan bahwa satu atau dua orang anggota kelompok tidak berkontribusi pada hasil kerja kelompok. Salah-salah, si pelapor bisa dianggap pengadu dan dijauhi teman-temannya. Itu bukanlah pilihan yang enak di dalam kelas. Serba salah. Bapak dan Ibu Guru perlu pintar-pintar dalam mencari tahu fakta-fakta seperti ini. Bukan hal yang mudah juga, karea biasanya bapak/ibu Guru yang memberikan tugas hanya mengajar bidang studi tertentu dan tentu tidak dapat mengawasi proses pelaksanaan tugas terus menerus.

Salah satu triknya adalah dengan memberikan pelajaran khusus terkait kerja kelompok bagi siswa. Dalam dunia kerja, sebuah perusahaan rela mengeluarkan biaya ratusan juta rupiah hanya untuk pelatihan kerja kelompok bagi karyawannya. Tampaknya sepele, tapi harganya ternyata mahal. Pelaksanaannya biasanya fun, berupa outbound, dengan games-games yang memang dirancang khusus untuk membangkitkan rasa dalam kelompok. Tidak ada hal teknis atau akademis. Hanya kerja kelompok. Bahasa kerennya Team Work.

Kembali ke dalam kelas, Bapak dan Ibu Guru rasanya perlu tetap mendampingi anak-anak terkait kerja kelompok ini. Hasil akhir dari tugas kelompok mereka tidaklah sepenting proses dan pengalaman yang mereka lalui dalam setiap tugas. Pengalaman dan hal-hal yang mereka pelajari dari interaksi mereka dengan kelompok adalah bekal berharga yang akan terus mereka pakai sampai dewasa.

Mau tidak mau, anak-anak memang harus melaluinya. Karena dunia saat ini maupun dunia mereka di masa depan setelah mereka dewasa, akan selalu membutuhkan kerja kelompok alias Team Work. Istilah yang keren, tapi sering kali tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Comments

comments

By | 2015-01-11T06:06:50+00:00 January 11th, 2015|Categories: Edukasi, Kidos, Opini|Tags: , |2 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

2 Comments

  1. Nathalia DP January 16, 2015 at 9:44 am - Reply

    saya termasuk yang ga suka kerja kelompok, lbh seneng bagi2 tugas, trus dkumpulin jd satu 😀
    alesannya krn kerja kelompok itu seringnya malah jd ga efektif… apalagi pas kuliah, tmn2 doyannya kerja mlm, sementara saya jam 8 aja mata udah pingin merem :))

    • Cheeqa Rahmat January 19, 2015 at 1:36 am - Reply

      Iya mbak, sama dong kita…
      Memang itu salah satu tantangannya kerja kelompok. Men-sinkron-kan kebiasaan dan karakter yang berbeda-beda.

Leave A Comment