Mengatur Rumah

Mengatur Rumah

Saya akui, saya termasuk yang permisif dan agak longgar dalam menerapkan aturan dan disiplin. Akibatnya, anak-anak jadi susah diatur. Misalnya terkait mainan-mainan mereka. Mungkin juga saya termasuk orang tua yang agak dipengaruhi didikan untuk tidak mengatakan kata-kata negasi “tidak” dan “jangan” kepada anak-anak. Maklumlah, saya masih ibu-ibu muda yang minim pengetahuan ketika pola pikir itu sedang ngetrend.

Sekarang anak-anak semakin besar dan agak sulit diatur terkait mainan. Si kecil suka sekali bermain Lego. Dia suka memajang hasil karyanya di rak-rak kami atau di meja belajar semua orang. Kalau dibereskan biasanya marah. Kecuali dia sudah bosan dengan karakter atau benda yang ia bentuk dari Lego tersebut, barulah pernik-pernik kecil itu bisa dibereskan.

Belakangan ini mainannya lebih aneh lagi. Dia mengumpulkan gelas-gelas plastik dan membuatnya jadi… pin bowling. Gelas-gelas itu dijejer, lalu dilempar dengan boneka bola (bola yang terbuat dari bahan boneka). Lalu, praaak klotak klotak… lumayan berisik hasilnya. Setelah itu gelas-gelas plastic itu tidak boleh dikembalikan lagi ke tempatnya yang benar, yaitu di dapur, di lemari peralatan makan. Tapi ditumpuk dan disimpan sesuka hatinya. Kadang kala di meja belajar sang kakak, kadang kala di kamar tidur saya, dan di saat yang lain ada di rak buku.

Lalu ada lagi si tengah yang suka sekali membuat berbagai macam benda dari kotak-kotak bekas. Biasanya yang ia buat karakter Hello Kitty atau rumah-rumah boneka mungil. Setelah itu dipajang di rak juga. Mana tega saya membuangnya. Tapi yang satu ini lumayan bagus. Paling tidak dia mau membereskan pernik-pernik peralatan craft-nya, dan menjaga agar pajangan hasil karyanya berada dalam teritorinya sendiri, tidak menyebar ke seluruh rumah.

Saya tidak menyalahkan anak-anak. Karena kalau dipikir-pikir saya sendiri pun seperti mereka. Bedanya, barang-barang saya biasanya berupa buku, binder, kamera, atau property fotografi. Hanya seperti si tengah, saya selalu berusaha menjaga agar pernak-pernik saya tersebut berada dalam lingkaran teritori saya pula (yang asyiknya, sebagai ibu di keluarga ini, lingkaran teritori saya agak luas). Mengenai teratur dan rapi atau tidak posisinya, itu urusan belakangan. Ya, rumah kami memang seru.

Tentu saja tidak selamanya barang-barang kami berantakan sepenuhnya. Di saat-saat tertentu, ada acara beres-beres di rumah. Tapi di saat-saat itu, sering kali saya kewalahan sendiri. Ada beberapa (banyak) barang yang tidak punya “rumah” atau tempat yang seharusnya. Kalaupun ada, wadah tersebt biasanya sudah sarat dengan muatan lainnya.

Saya akui, kami harus beajar banyak tentang home organizing. Tapi kami menikmati rumah kami. Sebagai blogger, blog saya mungkin agak rapi. Jangan tertipu. Saya bukanlah manusia sempurna. Apalagi sebagai ibu yang bekerja di luar rumah, dengan tiga anak yang beranjak besar, kami memang jauh dari kesempurnaan. Kami hanya sedang belajar bersama untuk tumbuh dan menjadi lebih baik, dan saya menikmati rumah kami yang unik. Begitu juga suami dan anak-anak kami.

Comments

comments

By | 2018-01-19T05:10:31+00:00 February 7th, 2015|Categories: Being A Housewife, Manajemen Rumah|Tags: , |0 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

Leave A Comment