Hari Tanpa TV & Gadget – Hari ke-2 : Rotterdam

/, Kidos/Hari Tanpa TV & Gadget – Hari ke-2 : Rotterdam

Hari Tanpa TV & Gadget – Hari ke-2 : Rotterdam

Hari ini hari kedua kami dari rencana 5 hari tanpa TV dan gadget. Sesuai jadwal yang kami susun, hari ini adalah giliran jalan-jalan. Jalan-jalan yang saya inginkan adalah jalan-jalan edukasi. Sayangnya, harus saya akui Makassar tidak banyak memiliki alternatif jalan-jalan edukasi.

Ada museum kota, Benteng Rotterdam yang terkenal itu, Benteng Somba Opu, Istana Balla Lompoa, Monumen Mandala, dan perpustakaan wilayah. Itu saja pilihan yang saya tahu saat ini. Pilihan akhirnya jatuh ke Benteng Rotterdam. Saya bilang ke anak-anak, kita akan ke benteng dan di dalamnya ada museum. Seperti saya, mereka suka dengan museum.

Kami tiba pukul 9 pagi di lokasi. Benteng tersebut dibuka untuk pengunjung sejak pukul 8 pagi sampai jam 6 sore. Tidak dipungut biaya masuk untuk masuk ke kompleks benteng. Hanya tinggal mengisi buku tamu saja. Sedangkan untuk memasuki museum, dipungut biaya yang sangat terjangkau, 4000 untuk dewasa dan 3000 untuk anak-anak.

Di gerbang masuk kami ditawari guided tour oleh seorang Bapak. Saya mau saja. Secara tidak banyak yang saya ketahui tentang benteng ini, meskipun sudah puluhan tahun tinggal di Makassar. Guided tour ini tarifnya cukup sepadan, 150 ribu untuk sekali tour keliling benteng, terserah mau berapa jam.

Maka jadilah si Bapak menemani kali mengelilingi benteng seluas 2,3 hektar tersebut sambil menjelaskan banyak hal tentang kerajaan Gowa hingga kota Makassar. Ceritanya bercampur antara mitos dan sejarah. Animisme yang masih dipegang oleh tetua-tetua di kampung-kampung di beberapa daerah di Sulawesi Selatan ternyata berakar dari mitos turun temurun yang juga tertuang dalam karya sastra I La Galigo yang terkenal itu.

Bapak tour guide kami menjelaskan, di kota Makassar sebenarnya ada 14 benteng yang pernah dibangun kerajaan Gowa. Tapi banyak di antaranya yang tinggal situs berupa puing-puing, atau bahkan dihancurkan dan digantikan dengan bangunan modern. Di antaranya ada benteng Panakkukang dan Benteng Tallo. Aduh, saya mengenal sekali kedua daerah tersebut. Tidak ada bekas-bekas benteng yang bisa dikenali di dua kawasan ini. Saat ini Panakkukang dan Tallo sudah penuh sesak dengan rumah penduduk, pasar, hotel, dan tentu saja mall.

Si Bapak melanjutkan. Jika saja benteng-benteng itu masih ada dan masih dipelihara hingga saat ini, maka Makassar akan jadi seperti The Forbidden City di China, Kota Terlarang. Ah, ya, romantisme kuno yang tinggal angan-angan saja jika mengharapkannya terjadi sekarang ini.

Saya pribadi memang menyukai sejarah, cerita-cerita kuno dan terus terang sangat menyukai wisata museum. Sepanjang perjalanan anak-anak pun kelihatan cukup menikmati. Bahkan si kecil sibuk memakai kamera saku kami untuk memotret ke sana ke mari objek-objek di dalam museum.

Museumnya cukup suram dan misterius. Benda-benda yang dipasang di sana kebanyakan lukisan yang mengisahkan mitos dari karya sastra I La Galigo, serta beberapa benda-benda yang dipergunakan kaum bangsawan penguasa kerajaan Gowa di masa lalu.

NoTV Day 2 - Crown

Replika Mahkota Raja Gowa di Museum La Galigo. Mahkota asli konon terbuat dari emas dan batu-batu permata, disimpan di istana Balla Lompoa.

NoTV Day 2 - La Galigo

Naskah asli I La Galigo, beserta sertifikat UNESCO yang menyatakan naskah ini Memory of The World

NoTV Day 2 - Lamin

Pelaminan lengkap suku Bugis-Makassar – Museum La Galigo

Untitled-1

Salah satu lesung tradisional yang digunakan untuk menumbuk padi. Saat ini sudah jarang dijumpai – Museum La Galigo

Di dekat pintu masuk terakhir di dekat akhir tour kami, si Bapak menunjukkan penjara tempat pengasingan Pangeran Diponegoro. Ruangannya agak aneh. Sebuah ruangan dengan pintu keluar mini setinggi anak kecil atau agak sedikit di atas pinggang orang dewasa. Menurut si Bapak, orang-orang Belanda yang menawan Pangeran Diponegoro sengaja membuat pintu keluar kecil tersebut agar ketika tawanannya keluar dari sel melalui pintu itu, si tawanan harus membungkukkan badan. Ia akan membungkuk pada petugas yang berjaga, atau secara simbol membungkuk kepada Belanda. Tapi Sang Pangeran ternyata lebih cerdik. Tak sudi membungkuk kepada siapa pun apalagi kepada pihak yang menawannya, ia selalu keluar dengan berjalan mundur dari pintu pendek ini. Bisa Anda bayangkan posisinya?

Sayang sekali bagian bangunan yang ini dikunci oleh pengelola. Untuk menghindari vandalisme, kata si Bapak. Iya sih, sejak tadi di beberapa bagian benteng saya melihat beberapa coretan tangan yang jelas bukan coretan tangan dari masa perjuangan.

Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.30. Kami pun sudah tiba kembali di titik awal memulai tour. Setelah menyelesaikan administrasi dengan tour guide kami, kami beranjak pulang. Lapar, lelah, tapi juga senang. Untuk saya, ditambah puas. Puas karena kami sukses melakukan aktivitas yang menjauhkan kami dari TV dan gadget di hari libur ini.

* * *

Saya selalu iri dengan kota-kota seperti Bandung dengan Planetarium Boscha atau museum Pos Indonesia-nya, atau Jogjakarta dengan Museum Affandi, Keraton, Museum Gempa, dan tempat-tempat bersejarah lainnya. Saya berharap Makassar punya banyak tempat seperti itu. Padahal kalau mau dirunut dari Sejarah, ada banyak kejadian penting yang terjadi di tanah ini. Di sini adalah pengasingan terakhir Pangeran Diponegoro, dan di tanah ini pula ia dimakamkan. Di sini adalah pangkalan militer ketika misi Irian Barat diluncurkan. Di sini pernah terjadi pembantaian 40.000 jiwa oleh Westerling. Di sini pernah terjadi perjanjian Malino, dan saya yakin pasti ada banyak lagi sejarah Kota kami yang jarang naik ke permukaan.

Sayang, wisata edukatif kalah pamor jauh dibanding wisata belanja, kuliner, wisata permainan atau wisata (maaf) hedonis lainnya.

Comments

comments

By | 2018-01-19T04:51:08+00:00 December 29th, 2015|Categories: Edukasi, Kidos|Tags: , , |0 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

Leave A Comment