Financial for Business

//Financial for Business

Financial for Business

Kenapa orang yang punya bisnis harus belajar laporan keuangan? Soalnya keuangan itu adalah bahasa bisnis. Orang bisnis berbicara dengan laporan keuangan, dan laporan itu dibuat dengan mengikuti seperangkat aturan-aturan accounting yang baku.

Salah satu yang jadi kendala bagi UMKM dan pebisnis pemula adalah pemahaman mengenai konsep-konsep pencatatan keuangan ini. Padahal dari laporan keuanganlah bisa dilihat untung atau rugi sebuah usaha. Tanpa laporan keuangan yang memadai, biasanya UMKM itu merasa bisnisnya untung kalau sudah bisa “bayar-bayar” dan masih ada sisa. Padahal untuk menghitung untung rugi, ada banyak sekali aturan-aturan pencatatan yang harus secara konsisten dilakukan seakurat mungkin.

Dulu pernah sih saya belajar accounting. Tapi selama dua puluh tahun ilmunya tidak/belum terpakai. Lalu kemudian dua tahun terakhir ketika saya mulai berpikir tentang bisnis, ya mau tidak mau harus belajar lagi.

Nah, beruntung di bulan November ada pelatihan finansial dan pajak bertitel “Mahir Mengelola Keuangan Bisnis” dari Insight Indonesia, yang founder dan ownernya adalah sahabat saya, Coach Fauziah Ochy Zulfitry. Saya mendaftar sejak bulan Oktober, dan singkat cerita dua hari saya dan 12 teman-teman pengusaha muslimah lainnya digodok di talent room gedung Insight.

Coach Wiwik Erly, yang dengan cepat jadi sahabat baru kami, adalah expert di bidang Finance dan Tax, serta lulusan Grounded Coaching menjadi Coach kami kali ini. Pusing? Pastinya. Apalagi bahasan pajak. Mumet. Tapi demi cita-cita, maju terus pantang mundur.

Pelatihan dibuka dengan motivasi bisnis. Kami harus mengisi coaching form yang kemudian kami share dengan partner training kami. Isinya pertanyaan-pertanyaan seputar motivasi membangun bisnis, goal financial, dan semacamnya.

Pada sesi utama, yaitu pembahasan mengenai finansial bisnis, Coach Wiwik dengan cerdas menyederhanakan bahasa-bahasa accounting untuk kami-kami yang awam. Bahasan yang cukup menyita usaha lebih untuk memahaminya adalah bahasan konsep depresiasi dan amortisasi, alias penyusutan dan pembiayaan terhadap sewa dibayar dimuka. Ini juga diakui oleh Coach Wiwik, bahwa memang dalam kebanyakan kelasnya inilah yang paling ditanyakan oleh peserta.

Ada lagi bahasan yang tentu saja menarik dan cukup membuat berasap. Pajak. Kami, para pengusaha emak-emak ini dikenalkan dengan konsep dan aturan perpajakan. Misalnya, pengenaan pajak 1% dari omzet untuk usaha kecil, dan pengenaan pajak 25% dari profit untuk usaha yang sudah melakukan pembukuan dengan baik. Pengenaan pajak 1% dari omzet ini dibuat agar para pengusaha kecil yang dianggap tidak melakukan pembukuan dapat menghitung dengan lebih mudah. Yaitu berapa pun jumlah hasil penjualan mereka, maka 1% darinya dikenakan pajak. Sederhana.

Tapi ada saatnya ketika 1% dari omzet ternyata lebih besar daripada 25% dari profit. Nah, saat itulah, atau saat sebuah badan usaha memiliki pendapatan 4.8 Milliar selama setahun, maka pemilik bisnis wajib melakukan pembukuan dan mencatatkan diri sebagai pengusaha kena pajak dan dia terkena pajak 25% dari profit sesuai pembukuannya.

Training ini tent membuka wawasan kami tentang laporan keuangan dan tentu saja tentang pajak. Sayang, waktunya kurang lama. Padahal masih banyak pertanyaan kami terkait finansial dan telebih lagi tentang pajak. Mudah-mudahan kapan-kapan ada trainingnya lagi ya…

Comments

comments

By | 2017-12-08T13:42:16+00:00 December 8th, 2017|Categories: Self Development|0 Comments

About the Author:

Simple and happy mommy * Advanced Open Water Diver * Enthusiast Reader * Books lover * Slow runner but continue making progress * Loves chocolate ice cream * Owner of Dapoer Kampoeng 33, a catering business located in Makassar, Indonesia * Food photographer

Leave A Comment